Kabar Duka! Pahlawan Devisa Malaysia Meninggal, Mayat Korban Penuh Kejanggalan

Info TKIInnalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun! Kabar duka bagi pahlawan devisa kita di Malaysia. Maka Kepolisian Polda Maluku Utara menyelidiki kematian Lily Wahidin (28), tenaga kerja wanita ( TKW) asal Kota Ternate, Maluku Utara, yang meninggal di Malaysia.

Kabid Humas Polda Maluku Utara, AKBP Hendri Badar mengatakan, Polda Malut telah mengambil langkah-langkah atas pertanyaan dari pihak keluarga korban atau TKW yang meninggal di Malaysia.

Polda Maluku Utara, kata dia, telah mengirimkan tim penyidik dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) ke Mabes Polri dalam rangka melakukan koordinasi dengan divisi hubungan internasional polisi diraja Malaysia.

“Setelah kami melihat jenazah sudah ada pemeriksaan luar dari Dokkes (dokter kesehatan) Polda Malut, dari situ penyidik melakukan upaya dengan mengirim tiga orang ke Mabes Polri,” kata Hendri Badar, kepada Kompas.com, di ruang kerjanya, Rabu (18/9/2019).

Selain itu, tim juga berkoordinasi dengan Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia atau BNP2TKI di Jakarta, terkait langkah apa saja yang sudah diambil.

“Saat ini tim masih berada di Jakarta, kita tunggu saja hasilnya seperti apa,” kata Hendri lagi.

Lily, TKW asal Kota Ternate, Maluku Utara ini dipekerjakan di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga.

Ia direkrut oleh PT Maharani Tri Utama Mandiri dengan kantor cabang yang beralamat di Jalan Lingkungan Marikurubu RT 011 RW 006, Kelurahan Marikurubu, Kota Ternate.

Sementara pihak agengsi yaitu AP.Morning Shine SDN.BHD. Lily dinyatakan meninggal pada Senin (2/9/2019) dini hari pukul 02.07 di Malaysia, diduga akibat jatuh dari ketinggian.

Namun, pihak keluarga menduga ada kejanggalan atas kematian Lily. Hal itu terlihat dari bekas sayatan panjang dari bawah kerongkongan hingga bawah pusat, jahitan di bagian pinggul kanan, tulang paha patah, serta jahitan dari dahi hingga kepala.

Mahrus Adam, suami Lily, yang ditemui Kompas.com di kediamannya di Kota Ternate, Rabu (18/9/2019), menceritakan sejumlah kejanggalan atas kematian istrinya.

Di beberapa bagian tubuh Lily ditemukan sejumlah bekas jahitan, seperti di bagian kepala, perut, kemudian pinggul sebelah kanan.

Padahal, berdasarkan riwayat kematian yang mereka terima dari pihak agengsi AP.Morning Shine SDN.BHD serta pihak perusahaan yang merekrut Lily jadi TKW yakni PT Maharani Tri Utama Mandiri, disebutkan bahwa Lily mengalami severe head injury in person who fell from height atau cedera kepala parah pada orang yang jatuh dari ketinggian.

“Kalau memang jatuh dari ketinggian, kenapa bagian paha kanan patah, ada jahitan di bagian dahi hingga kepala. Dan yang paling tanda tanya bagi kami, yaitu terdapat jahitan mulai dari bawah kerongkongan hingga perut (bawah pusat), kemudian ada juga jahitan di atas pinggul kanan,” kata Mahrus, didampingi orangtua korban.

Selain sejumlah jahitan, di lutut bagian belakang serta beberapa bagian tubuh lainnya juga terdapat memar. Semua ini diketahuinya setelah membuka peti jenazah yang tiba di Kota Ternate pada Kamis (5/9/2019).

“Begitu buka peti serta kafan, langsung melihat jahitan yang begitu panjang dari bawah kerongkongan hingga bawah pusat,” kata Mahrus.

Sebelum kabar kematian istrinya, Mahrus mengaku sudah menyimpan firasat yang tidak baik ketika beberapa hari sebelum kematian istri, dirinya sulit berkomunikasi dengan pihak agengsi.

Terakhir, kata dia, ia berkomunikasi dengan istrinya pada 29 Agustus 2019, itupun dengan menggunakan ponsel milik majikannya di Malaysia. Komunikasi itu juga hanya belangsung beberapa menit, setelah itu putus.

“Istri saya hanya bilang kalau dia sudah tiba di rumah majikannya. Hanya itu, langsung putus, padahal saya masih ingin bicara lagi lebih banyak dengan dia,” ujar Mahrus.

Keesokan harinya, pada 30 Agustus 2019, sekitar jam 4 sore, dia menerima telepon dari nomor +60, dia sangat yakin bahwa nomor yang diawali dengan angka itu adalah dari Malaysia, dan ternyata dari pihak agengsi.

Dalam pembicaraan itu, pihak agengsi mengatakan bahwa, “istri bapak sakit tapi kelihatan tidak sakit atau pura-pura dan saya sudah ambil dari rumah majikan untuk dibawa ke agengsi di sana selama dua hari”.

“Saya langsung jawab, kalau memang begitu, tidak bisa lagi kerja, lebih baik istri saya dipulangkan saja, terus katanya tidak bisa karena harus membayar ganti rugi sebesar Rp 30 juta. Saya tanya lagi, apakah Rp 30 juta sudah termasuk biaya dia kembali hingga ke Ternate atau belum, terus katanya sudah,” kata Mahrus.

“Saya bilang juga, kalau ada istri saya di situ saya ingin bicara. Dan memang ada, saya tanya sakit apa, terus katanya pusing, cuma itu,” kata Mahrus lagi.

Setelah itu, komunikasi pun tiba-tiba putus padahal menurut Mahrus, dia masih ingin menanyakan ke mana uang sebesar Rp 30 juta itu ditransfer agar bisa mempercepat kepulangan istrinya.

“Dari situ saya mulai gelisah, karena saya hubungi nomor tadi dari agengsi tapi tidak bisa. Kemudian, Senin tanggal 2 September 2019, saya menelepon kantor pusat perusahaan yang ada di Jakarta.

Orang perusahaan itu katakan bahwa dirinya baru saja berkomunikasi dengan agengsi yang ada di Malaysia, tapi tidak menyampaikan bahwa ada satu orang tenaga kerja yang sakit,” kata Mahrus. (*)

Sumber Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*